
Gunungkidul – Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Al Mubarak dari STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya melaksanakan program pengembangan guru TPQ yang ditujukan khusus bagi para remaja masjid. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Agung Randusari, Kalurahan Watusigar, dan dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat sore.
Program ini lahir dari hasil pengamatan langsung dan wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa Kukerta terhadap kondisi TPQ di wilayah tersebut, khususnya TPQ Nur Hidayah. Berdasarkan temuan di lapangan, diketahui bahwa dulunya TPQ memiliki banyak pengajar yang kompeten dalam membimbing anak-anak. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah tenaga pengajar mulai menurun secara signifikan. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan regenerasi guru TPQ menjadi sangat mendesak.
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, para mahasiswa Kukerta menginisiasi pelatihan khusus bagi remaja masjid agar dapat mengambil peran sebagai pengajar TPQ. Para remaja ini dipandang sebagai potensi besar yang dapat diberdayakan, karena selain memiliki semangat belajar yang tinggi, mereka juga merupakan bagian dari lingkungan masjid yang aktif. Namun, kenyataannya, sebagian dari mereka masih belum percaya diri untuk mengajar karena keterbatasan dalam hal bacaan Al-Qur’an dan teknik mengajar.
Melihat tantangan tersebut, program pelatihan difokuskan pada dua aspek utama. Pertama, pembenahan makhraj huruf dan bacaan Al-Qur’an agar para remaja memiliki dasar bacaan yang baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Kedua, pemberian bekal tentang metode mengajar yang efektif, mulai dari teknik penyampaian materi, pendekatan kepada anak-anak, hingga penyusunan materi ajar yang sesuai dengan tingkatan usia.

Selama pelatihan berlangsung, para remaja diberikan bimbingan secara bertahap. Mereka diajak untuk memperbaiki bacaan secara individual maupun kelompok, sekaligus berlatih mengajar secara simulatif. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mengajar mereka secara praktis.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi para remaja, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menjaga eksistensi dan keberlanjutan TPQ di lingkungan setempat. Keberadaan guru TPQ yang berasal dari kalangan remaja diharapkan dapat memberikan nuansa baru dalam proses pembelajaran serta menjadi contoh positif bagi anak-anak TPQ.
Program ini juga memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat, terutama dalam hal pendidikan Al-Qur’an. Dengan keterlibatan aktif para remaja, diharapkan akan tercipta sinergi antara generasi muda dan institusi keagamaan dalam membangun masyarakat yang Qur’ani dan berakhlak mulia.
Kegiatan ini akan terus berjalan hingga masa tugas Kukerta selesai, dan diharapkan dapat menjadi program yang berkelanjutan meskipun mahasiswa telah kembali ke kampus. Pihak pengurus masjid maupun TPQ diharapkan dapat melanjutkan dan memantau perkembangan para remaja tersebut agar mereka benar-benar siap menjadi guru yang membina generasi selanjutnya.

